Inilah Cara Menyuguhkan Pembicaraan yang Enak dan Berkesan

Agar dapat menyuguhkan pembicaraan yang enak dan berkesan, Islam memberikan beberapa tuntunan kepada umatnya, dengan tujuan meraih kebahagiaan yang sempurna.

Pertama, memilih kata-kata yang baik. Sabda Rasulullah saw, “kata-kata yang indah lagi baik adalah bagian dari sedekah”. (HR Bukhari dan Muslim). Ditegaskan oleh Muhammad saw, “Jauhilah siksa neraka sekalipun hanya dengan bersedekah separuh buah kurma. Barang siapa tidak mendapatkannya, maka cukup dengan kata-kata yang baik”. (HR Bukhari dan Muslim dari Adiy bin Hatim).

Sebagai muslim, perlu diketahui bahwa perkataan yang baik merupakan perekat jalinan persaudaraan dan cinta kasih. Rasulullah saw menegaskan, “Bukanlah seorang mukmin yang apabila berbicara suka mencela, suka melaknat, suka berbuat keji, dan suka berbuat jahat”. (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).

Kedua, penuh perhatian terhadap lawan bicara. Agar pembicaraan kita enak didengar dan menyenangkan, hendaklah kalimat yang kita ucapkan diiringi dengan sikap yang membuat lawan bicara merasa diperhatikan. Dalam hal ini Hind bin Abi Hallah telah memberikan keterangan tentang sifat Rasulullah saw ketika berbicara dengan para sahabat: “Beliau selalu memberikan perhatian dan bagian kepada seluruh pendengar. Dalam pembicaraannya tidak pernah menimbulkan kesan bahwa ada seseorang yang diutamakan, sementara yang lain agak diabaikan. Beliau senantiasa mendudukkan mereka dalam proporsi yang sama”. (HR Tirmidzi dari Hind bin Abi Hallah).

Apabila orang yang berbicara menunjukkan penghargaan, penghormatan, raut muka berseri & gembira, kelembutan serta perhatian penuh, tentu lawan bicaranya akan merasa senang & merespon pembicaraan tersebut. Bukan cerminan akhlak karimah apabila seseorang berbicara dengan orang lain dengan sikap sombong dan memalingkan perhatian.

Ketiga, berbicara dengan jelas dan pelan. Apabila seorang muslim berbicara dengan orang lain, hendaklah dengan ucapan yang jelas, pelan, mudah diterima dan dengan suara yang lembut. Jangan berbicara dengan berteriak, atau terlalu pelan sehingga sulit dipahami. Tergesa-gesa dalam berbicara seringkali mengakibatkan lawan bicara merasa bingung dan resah, terutama dalam pembicaraan yang menyangkut masalah tanggungjawab, berita tidak menyenangkan, atau berita yang menjengkelkan.

Anas bin Malik menegaskan, bahwa Rasulullah apabila berbicara mengulangi kata-katanya hingga tiga kali agar mudah dipahami. Apabila datang kepada sekelompok orang, maka beliau mengucapkan salam hingga tiga kali. (HR Bukhari dari Anas). Aisyah juga menegaskan bahwa Rasulullah apabila berbicara senantiasa perlahan-lahan lagi jelas, sehingga bisa dipahami oleh semua orang yang mendengarkannya. (HR Abu Dawud dari Aisyah).

Keempat, memanggil dengan nama yang manis. Umar bin Khatab menegaskan, “ada tiga hal yang dapat menjernihkan cinta kasih antara kamu dengan saudaramu: memberikan salam setiap kali bertemu, melapangkan tempat duduk dalam majlis, dan memanggil dengan panggilan manis yang menjadi kesukaannya”.

Allah melarang seorang mukmin memanggil temannya dengan panggilan yang buruk dan julukan menyinggung perasaan. Al Quran menegaskan: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zhalim” (QS. Al. Hujarat:11).
Demikianlah empat panduan untuk menyuguhkan pembicaraan yang enak dan berkesan. Semoga bermanfaat.


Sumber: Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya.

Semoga bermanfaat. 

Comments

Popular posts from this blog

5 Tips Sukses Menjadi Mahasiswa Magang

Memahami Peran Human Resource dalam Organisasi

Apa itu Human Resource Business Professional (HRBP) ?