Kegelisahan Intelektual Seorang Master

Kegelisahan
Saya tahu ada kegelisahan yang mendalam mengenai peran serta kehidupan saya saat ini. Bahwa masih ada banyak hal yang perlu saya lakukan untuk bangsa Indonesia ini. Kegelisahan intelektual seorang master yang mungkin tidak akan diselesaikan dalam waktu satu hari. 

Simbol 22
Saya menyadari bahwa itulah rasa yang membangkitkan pemikiran, pergerakan dan semangat untuk maju. Ada dua kata yang sederhana dan mudah saja diucapkan: hidup dan mati. Menurut saya dua hidup dan dua mati. Dua kehidupan dan dua kematian. Diawali dari tiada, menjadi ada, lalu tiada dan akhirnya ada (abadi). Angka 22 menjadi simbolnya. Saya sudah pernah membahasnya.

Ketika revolusi dalam diri sedang terjadi, seringkali kita bergegas menanggapinya dan segera mematikannya karena khawatir kita tak akan mampu mengendalikannya dengan baik. Padahal hidup yang bergerak pelan naik juga cukup membosankan. Apalagi bila stagnan!

Ada hal yang patut kita cermati dan renungkan. Ketika kita berhenti bekerja saat jam 17.00 berdenting, apakah itu berarti kita berhenti berkarya? Menurut saya, tidak. Karya terbaik kita untuk keluarga dan masyarakat pun masih ditunggu. Ada begitu banyak pemikiran kaum intelektual yang mestinya bisa meringankan kehidupan bangsa ini, bukannya malah memberatinya.

Pajak, Zakat dan Segala Macam Pungutan
Adakah sejumlah alternatif penyelesaian atas masalah-masalah yang sedang kita hadapi sekarang? Alternatif yang breakthrough dan menyelesaikan masalah tanpa masalah? Dalam diskusi pagi yang menarik, saya benar-benar tergerak untuk merasakan dan memikirkan. Untuk apa intelektualitas yang tak memberikan keringanan kepada kehidupan masyarakat? Ketika pajak, zakat dan segala macam pungutan itu tak lagi meringankan namun malah memberati, apakah itu berarti ada ketidakihlasan dalam membayarkan pajak, zakat dan segala macam pungutan itu sehingga organisasi pengelolanya tidak berada dalam zona ikhlas warganya? Saya belum mempelajarinya lebih lanjut.

Jadi, kegelisahan intelektualitas itu sampai dimana? Sederhana saja. Ketika saya mengalami kegelisahan misalnya karena tak segera mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan (kala itu), maka bisa jadi kegelisahan ini juga sedang dialami oleh jutaan manusia lainnya. Saya mau menyalahkan siapa?

Saya tidak diajari untuk menyalahkan orang lain. Semangat proaktif yang diajarkan oleh Stephen Covey mungkin hari ini masih terlalu kental dalam darah saya sehingga saya memilih untuk memperbaiki kompetensi saya dari hari ke hari untuk mencapai pekerjaan yang saya inginkan. Daripada memilih mencemooh sesuatu di luar lingkaran pengaruh saya, saya MEMILIH untuk tetap memperkuat alternatif yang berada dalam lingkaran pengaruh saya.

Trust Me, Saya Akan Terus Belajar
Jadi, akankah ini berhenti hari ini? Tidak. Ada begitu banyak catatan intelektual (atau apapun itu bentuknya) yang ingin saya bagikan untuk menginspirasi yang lainnya bergerak melalui karya-karyanya. Saya akan lebih banyak meluangkan waktu saya untuk belajar berkomunikasi baik melalui lisan maupun tulisan. Itulah kekuatan komunikasi. Trust me, saya akan terus belajar.

Semoga bermanfaat,
Novan Restu

Sumber Gambar disini

Comments