#SemcoStories: Bertanyalah Mengapa Tiga Kali Berturut-turut

Buku Revolusi Bisnis Abad ke-21 mungkin sudah jadul (tahun 2008 diterbitkan pertama kali oleh Mizan), namun isinya masih menarik bagi saya untuk dipelajari. Saya juga berbagi melalui twitter dengan topik #SemcoStories.

Yang menarik perhatian saya adalah strategi bertanyalah mengapa tiga kali berturut-turut. Ini adalah salah satu strategi utama Semco yang menjadi dasar praktik bisnisnya.

Namun itu tidak mudah, karena kita dibiasakan untuk tidak bertanya terlalu banyak. Mengapa? Inilah LIMA ALASAN yang disampaikan Semler:
Pertama, banyak bertanya dianggap tidak sopan dan berbahaya. 

Kedua, terlalu banyak bertanya bisa jadi menunjukkan bahwa kita tidak peduli atau tertinggal informasi.

Ketiga, kita cenderung khawatir apabila yang kita kira benar selama ini ternyata tidak benar. 

Keempat, pihak manajemen biasanya khawatir dengan kemungkinan datangnya pertanyaan yang terus-menerus dari para karyawan. 

Kelima, dan yang paling penting adalah karena banyak bertanya berarti harus mengesampingkan semua jawaban rutin atau jawaban asal-asalan yang dihasilkan dari pemikiran 'yang mengkristal' - sebuah kondisi mental saat gagasan-gagasan telah begitu mengeras dalam konsep-konsep yang kaku dan tertutup untuk dipertanyakan - sehingga gagasan-gagasan tersebut tidak berguna lagi. 

Semler mengemukakan bahwa kebiasaan seperti ini seharusnya menjadi kebiasaan bagi seluruh elemen organisasi/perusahaan, dimana mereka bebas bertanya, menganalisa, menginvestigasi, dan perusahaan harus cukup fleksibel untuk mendengarkan jawaban-jawaban tersebut.
Mengapa begitu? Karena kebiasaan-kebiasaan ini adalah kunci bagi kelangsungan, pertumbuhan, dan perolehan laba sebuah perusahaan. 

Bagaimana contohnya?  

Setiap ortu balita memahami betul nilai sebuah pertanyaan. Ketika si anak bertanya MENGAPA untuk pertama kali, maka anda akan memberikan jawaban versi orang dewasa yang 'benar'. Jawaban ini akan segera diikuti oleh pertanyaan MENGAPA yang kedua dari si anak. Anda menjadi sedikit kesulitan dan mencoba merespons dengan perhatian lebih.
 
Setelah penjelasan kedua tersebut, maka akan muncul pertanyaan MENGAPA yang ketiga darinya. Setelah pertanyaan MENGAPA yang ketiga ini, tidak peduli apa pun subyek pertanyaannya, maka bisa jadi anda mensolusikan dengan 'membelikan' makanan yang disukainya, misalnya yogurt agar ia melupakan pertanyaan MENGAPAnya. 

Hal-hal serupa juga berlaku untuk pertanyaan: mengapa harus memakai pakaian seragam, mengapa penghasilan orang itu lebih besar daripada penghasilan saya, mengapa saya harus mengantri untuk ini dan itu dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. 

Masih banyak cerita bagaimana pengelolaan Semco yang disampaikan di buku Revolusi Bisnis Abad ke-21 ini. Memang, diawal sudah diingatkan oleh Semler, bahwa apa yang dipraktikkan di Semco, belum tentu dapat ditiru dan dipraktikkan di perusahaan lainnya. 

Semler mengungkapkan bahwa ia butuh waktu hampir dua dekade (20 tahun) untuk menjalani proses perubahan/transformasi Semco 'tua' menjadi Semco saat ini. Tentu, dengan mencoba memahaminya, kita dapat mengambil sejumlah manfaat dari proses pembelajaran Semler dalam membangun bisnisnya di Semco.

Untuk dapat merasakan dan mendapatkan manfaat lebih lengkap, ada baiknya anda membaca buku ini dengan lebih detail dan lengkap.

Semoga bermanfaat, Novan Restu


Sumber bacaan: Revolusi Bisnis Abad ke 21, Ricardo Semler. Penerbit: Kaifa, 2008.
Sumber Gambar ada disini.

Comments