Dimana Letak Keistimewaan Shalat Dhuha?


Saya lanjutkan catatan bacaan saya dari buku The Ultimate Power of Shalat Dhuha. Dalam tulisan sebelumnya disampaikan tiga hadits mengenai shalat dhuha.

Shalat dhuha merupakan salah satu amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya, sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah: 

“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari tiap bulan, dua rakaat dhuha, dan witir sebelum tidur.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).

Para ulama juga sangat menjaga shalat dhuha nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i: “Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha.”

Aisyah ra berkata, “Jika Rasulullah saw meninggalkan suatu amalan yang beliau suka mengamalkannya, hal itu karena beliau khawatir orang-orang menganggapnya sesuatu yang diwajibkan. Dan tidak sekalipun Rasulullah saw melaksanakan shalat sunah dhuha, kecuali aku pun melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain yang senada juga dikabarkan bagaimana Aisyah meneladani ketekunan Rasulullah saw dalam melakukan shalat dhuha. 

“Aisyah ra berkata, “Setiap kali aku melihat Rasulullah saw melaksanakan shalat dhuha, aku pun pasti melaksanakannya.” (HR Bukhari). 

Imam Attirmizy meriwayatkan sebuah hadits qudsi dari Abu Darda dan Abu Zarr ra: dari Rasulullah saw berkata, dari Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) untuk-Ku pada awal siang dengan empat rakaat, maka Aku akan mencukupimu di akhir siang itu.”

Di halaman 26 buku The Ultimate Power of Shalat Dhuha diajukan pertanyaan berikut:
Di mana letak keistimewaan shalat dhuha sehingga Rasulullah saw dan para sahabatnya sangat senang mengerjakannya? 

Inilah jawaban yang disampaikan penulis, Ustad  Zezen, yang menurut saya menjawab pertanyaan dari rekan saya mengenai manfaat shalat dhuha

“Setiap amalan dalam syariat Islam tidak pernah lepas dari hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun, tersingkapnya hikmah suatu amalan akan bergantung pada kemampuan manusia itu sendiri. Bisa jadi hikmah suatu amalan itu beragam karena kemampuan kita dalam menyingkap hikmah yang terdapat dalam amalan tersebut tidak sama. 

Perlu diingat, hikmah dari suatu amalan yang dikerjakan itu datangnya tidak bisa kita tentukan. Bisa saja lebih cepat dari perkiraan kita, atau sebaliknya, datangnya sangat lambat sehingga membuat prasangka buruk dalam hati kita. Semua ketentuan ada di tangan-Nya. Kehendak Allah di luar kehendak manusia. Tetaplah bersangka baik kepada-Nya dan mengerjakan apa yang telah Allah kerjakan”. 

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakannya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (QS An Nahl:1)

Catatan ini belum selesai dan akan dilanjutkan lain waktu. :)

Salam,@MasNovanJogja 

Related Notes:
- Membiasakan Shalat Dhuha
- Buku The Ultimate Power of Shalat Dhuha


Comments

Popular posts from this blog

5 Tips Sukses Menjadi Mahasiswa Magang

Memahami Peran Human Resource dalam Organisasi

Apa itu Human Resource Business Professional (HRBP) ?