Empat Bab yang Ditulis dalam Buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro

Peter Carey, penulis buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro membaginya menjadi empat bab besar. 

I. Masa Kecil dan Masa Muda Pangeran Diponegoro (1785-1808). 

Di dalam bab ini, terdapat tiga sub bab yang dipaparkan yaitu, periode tahun 1785-1803, masa kecil Pangeran Diponegoro dan Pengasuhan. 

Selanjutnya periode tahun 1803-1805, masa muda Pangeran Diponegoro. Di dalam sub bab ini dipaparkan hal-hal berkaitan dengan perkawinan, pendidikan dan hubungan Pangeran Diponegoro dengan Komunitas Santri. 

Sekitar tahun 1805, peristiwa dimana Pangeran Diponegoro mendapatkan takdir berupa bisikan dipaparkan di sub bab ketiga, Berziarah ke Pantai Selatan. 


II. Awal Keruntuhan Tanah Jawa (1808-1812)

Terdiri dari tiga sub bab (sub bab 4 sampai dengan 6), Peter Carey menjelaskan bagaimana pergolakan di Keraton Keraton Jawa Tengah, termasuk Keraton Yogyakarta, merupakan dampak dari pengaruh perang dua kutub besar Perancis dan Inggris. 

Di sub bab keempat, dimulai di halaman 81, menceritakan Orde Baru Daendels dan keraton keraton Jawa Tengah (1808). Kisah pemberontakan Raden Ronggo pada periode (1809-1810), direkam dalam sub bab kelima mengenai Pahlawan Terakhir Orde Lama. Pada sub bab terakhir dalam bab II ini dipaparkan bagaimana kekuasaan Inggris mengakhiri masa pemerintahan Prancis – Belanda di tanah Jawa pada periode (1811-1812). 


III. Tahun-Tahun Emas, Tahun-Tahun Besi (1812-1825)

Kedatangan Inggris ke tanah Jawa bukanlah untuk pembebasan, namun untuk melaksanakan nafsu keserakahan untuk menguasai, menjajah tanah Jawa.  Inilah yang tergambar dalam masa-masa peralihan Inggris di periode tahun 1812-1816. 

Selanjutnya di sub bab kedelapan, Kembalinya Pemerintahan Belanda dan Pemiskinan Kaum Tani Jawa (1816-1822), menceritakan bagaimana episode inilah yang menyulut api Perang di Tanah Jawa dan mengesahkan jalan takdir Pangeran Diponegoro untuk bangkit melawan Belanda. 

Degradasi moral, pemiskinan rakyat, dan upaya penangkapan Pangeran Diponegoro di kediamannya Tegalrejo, sungguh menjadi momentum yang tepat bagi Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat dibaca di sub bab sembilan: Menanti Ratu Adil – Penampakan-penampakan Terakhir dan Jalan Menuju Perang Jawa.


IV. Perang dan Pengasingan (1825-1855)

Pada sub bab sepuluh disampaikan sedikit perjalanan Pangeran Diponegoro melaksanakan perang suci di tanah Jawa yang memberikan pelajaran besar bagi Penjajah Belanda, yang pada akhirnya memunculkan ide strategi perang stelsel. 

Perundingan yang dilaksanakan di Magelang ini dituliskan oleh Peter Carey dalam satu sub bab tersendiri dengan judul yang cukup mencengangkan, Dikhianati atau Menyerah Terhormat? Pangeran Diponegoro di Tangan Belanda (Februari - Mei 1830). Sebuah titik penyelesaian Perang Jawa yang dilakukan oleh De Kock, digambarkan oleh Pangeran Diponegoro dalam Babad Diponegoro sebagai pertemuan (perundingan) yang dramatis penuh khianat dan curang (halaman 372). 

Di sub kedua belas (sub bab terakhir), periode tahun 1830 sampai dengan 1855 merupakan periode pengasingan Pangeran Diponegoro. Disinilah era produktif penulisan Babad Diponegoro terjadi. Sebuah karya dari Pangeran Diponegoro yang pada tanggal 22 Juni 2014 diterima oleh Komite Penasihat Internasional UNESCO sebagai salah satu dari 299 naskah dari semua negara di dunia yang telah masuk ke Daftar Ingatan Kolektif Dunia (Memory of the World Register).

Semoga bermanfaat. Salam, @MasNovanJogja

Comments