Pak Noto Cipto, Atasan yang Bijaksana

Pesan Singkat dari VP Saya
Senin Pagi 5 Juli 2010, saya mendapatkan pesan singkat dari VP saya yang cukup mengagetkan. Inti pesan tersebut mengabarkan bahwa Pesawat Pak Noto Cipto jatuh saat melakukan perjalanan terbang dari Bandara Nusawiru Pangandaran menuju Bandara Sulaeman Margahayu Bandung.

Saya pun melanjutkan pesan singkat itu kepada rekan-rekan saya lainnya. Saya kemudian menyiapkan diri menuju ke kantor. Sesampainya di kantor, salah seorang sekretaris di unit kerja saya, Dheta, menanyakan kebenaran berita tersebut. Rekan-rekan lain yang sudah tahu membenarkan apa yang menjadi keraguan Dheta.


Menuju Sulaeman
Menjelang siang, saya berkesempatan bersama-sama Pak Wijaya dan istrinya, Bu Sri menuju ke Lanud Sulaeman Bandung. Kebetulan, saat kami menuju ke Lanud Sulaeman, kami bertemu dengan Pak Bambang, adik kandung Pak Noto Cipto. Kamipun beriringan bergerak menuju posko di Lanud Sulaeman. Disana, kami menjumpai Ibu Ana, istri Pak Noto Cipto, yang dengan sikap tenang menjelaskan beberapa hal yang terkait dengan kejadian ini. Ada hal yang sama, seperti yang sempat terkilas saat saya menuju Lanud Sulaeman, yang dibenarkan juga oleh informasi yang sama oleh Ibu. Saya hanya dapat berdoa agar Pak Noto Cipto dan co-pilot Pak Panji Gunawan segera dapat ditemukan hari ini, Senin. Setelah beberapa jam berada di Posko, kami pun ijin pamit kepada Ibu. Kami pun kembali ke kantor.

Pak Noto Cipto, Atasan Langsung Saya
Siapa Pak Noto Cipto di dalam pekerjaan saya? Beliau adalah atasan langsung saya. Semenjak bergabung dengan Perusahaan Plat Merah ini, Pak Noto Cipto adalah atasan langsung ke-empat saya. Alhamdulillaah, sejak dari atasan langsung pertama, hingga yang keempat yaitu Pak Noto Cipto, di empat perusahaan yang berbeda, saya mendapatkan atasan yang mengayomi bawahannya. Mereka cenderung menjadi orang tua bagi saya, tempat untuk bertanya dan bersabar menghadapi saya dengan segenap upaya pembelajarannya. Belum lama bagi saya bersama dengan Pak Noto Cipto. Juni 2010, genap 1,5 tahun beliau menjadi atasan saya dan di bulan ini pula, beliau menjalani masa persiapan pensiun (MPP).


Belajar Banyak dari Pak Noto Cipto
Ada banyak hal yang saya peroleh dari beliau sejak hari pertama saya bergabung di sub unit beliau. Saya langsung terlibat dalam pekerjaan pembuatan kebijakan bersama rekan-rekan kerja lainnya. Saya ditantang untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang cukup singkat. Alhamdulillaah, saya berhasil menunaikannya.

Tugas-tugas lainpun terus berdatangan. Mulai ada masukan dan saran dari beliau atas pekerjaan-pekerjaan saya. Karena saya ada di kebijakan, maka pilihan-pilihan kata yang lebih 'halus' sering menjadi masukan bagi saya yang cenderung 'straightforward, to the point'. Beliau orang yang halus dalam bertutur kata dan berhati-hati dalam memberikan saran.


Minimal Satu Bulan Sekali Menjenguk Orang Tua
Posisi orang tua saya yang berada di Jogja tentu membuat saya lebih jarang untuk dapat berkomunikasi secara langsung, meskipun saya sudah mengupayakan untuk dapat mengunjungi kedua orang tua saya minimal sebulan sekali. Ya, saya di Bandung dan kedua orang tua saat ini berada di Jogja.

Pernah seorang rekan kerja saya menyampaikan, "wah boros Van kalo tiap bulan pulang kampung". Saya tersenyum saja. Saya pernah mengalami suatu kondisi dimana saya memahami bahwa kesempatan dan waktu untuk bersama orang tua itu jauh lebih mahal daripada tiket kereta yang saya bayar untuk pulang pergi dari Bandung ke Jogja.

Rupanya kebiasaan ini pun dilakukan oleh Pak Noto Cipto. Beliau menyampaikan kepada saya bahwa beliau pun senantiasa meluangkan waktu sedikitnya sekali sebulan untuk bersilaturahim kepada kedua orang tua beliau di Kudus. Sebuah filosofi penting beliau sampaikan kepada saya mengapa kebiasaan ini penting untuk dilakukan dan baik untuk terus dilakukan jika memang mampu.

Orang Tua yang Menenangkan
Saya bersyukur mendapatkan atasan-atasan yang luar biasa, termasuk pak Noto Cipto. Di tahun 2009, saya sedang menyiapkan pernikahan saya yang perlu proses. Banyak hal yang saya perlu hadapi dan diskusikan dengan orang tua. Sebagai seorang anak, saya memerlukan pendapat dan nasehat orang tua. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, orang tua saya ada di Jogja. Tentu tidak dapat setiap saat saya menghubungi dan berdiskusi dengan mereka.

Alhamdulillaah, diskusi dengan Pak Noto Cipto membantu saya membuka banyak wawasan untuk mempersiapkan diri dan memiliki alternatif-alternatif pemikiran mengenai pernikahan dan membangun keluarga. Hingga menjelang hari-H, saya banyak memperoleh dukungan dari beliau. Kebijaksanaan yang beliau sampaikan memberikan ketenangan dalam bersikap.


Andai Kamu Gabung 5 Tahun Yang Lalu
Suatu pagi saya bersama Pak Noto Cipto bersamaan di lift dan menuju ke ruang kerja masing-masing. Mungkin karena beliau melihat penampilan saya yang santai seperti mahasiswa beliau kemudian menyampaikan hal ini, "Novan, coba kamu cari tahu aturan perusahaan mengenai studi S3 ya. Coba ya ajukan ke saya permohonan untuk sekolah S3 ke saya". "Oke Pak, saya cari tahu aturannya.

Saya kemudian mencari tahu aturan perusahaan mengenai ijin sekolah. Well, ternyata setelah lima tahun bekerja baru bisa melanjutkan sekolah lagi. Padahal saat itu saya baru sekitar 8 bulan jadi karyawan. Komentar beliau, "Wah, kalo kamu sudah gabung 5 tahun yang lalu, akan saya usulkan untuk ijin sekolah S3 Van. Sayang ya, kamu baru 8 bulan di sini". Saya tertawa dan bilang, "Ya nanti pak kalo sudah lima tahun saya minta rekomendasi ke bapak ya.."

Ngajak Makan Siang, Alasannya Tasya Ngidam!
Waktu itu, rekan kerja saya, Tasya, sedang hangat-hangatnya menikmati pernikahan. Sering digoda, kapan ni hamil. Dan suatu siang, Pak Noto Cipto mengajak kami bertiga, Saya, Tasya dan Romi untuk makan siang. Kata beliau, "Yuk nyari makan siang. Tadi katanya Tasya ngidam Bebek Goreng. hehehe.." Tasya tertawa saja mendengarnya. Memang sih pas diruangannya beliau, saya sempat mendengar Tasya pengen makan bebek goreng. Wah...keinginanmu terkabul Tas!

Saya pun diminta mengemudikan mobil Peugeot 206 Merah beliau. Karena saya belum pernah menggunakan mobil Eropa, alhasil sering kali salah antara menghidupkan lampu sein dengan menghidupkan wiper karena letaknya kan berbeda dengan mobil Asia semacam KIA, Daihatsu maupun Honda. Jangan khawatir, kamipun sampai di Bebek Goreng antah berantah (maaf saya lupa dimana itu :))

Rencana Menjelang Pensiun dan Kisah lainnya
Kami bersama rekan-rekan kerja lainnya seringkali makan siang bersama. Suatu ketika, saya, Romi, dan Pak Noto Cipto makan siang bersama. Ini terjadi di awal 2010. Beliau menceritakan beberapa rencana pensiunnya. Dari kos-kosan hingga touring mengelilingi Indonesia. Beliau punya banyak rencana di masa pensiunnya. Masih banyak kisah mengenai Pak Noto Cipto yang ada dalam benak pikiran saya.


Semoga Segera Ditemukan
Setelah sholat isya malam ini, saya tak mampu menahan tangis saya. Saya memohon kepada-Nya agar hari esok, Sabtu, pencarian tim SAR menemukan titik terang yang berarti. Saya berdoa semoga esok hari Pak Noto Cipto dan rekannya Pak Panji Gunawan dapat segera ditemukan dalam kondisi baik. Amiin...Amiin Ya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

5 Tips Sukses Menjadi Mahasiswa Magang

Memahami Peran Human Resource dalam Organisasi

Apa itu Human Resource Business Professional (HRBP) ?